Payakumbuh, (indonesia),- Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Koto Panjang, Lampasi Tiga Nagari, Payakumbuh, akan menggelar Reuni Akbar Lintas generasi dan sekaligus memperingati ulang tahun ke 90 tahun, Madrasah Tarbiyah Islamiyah.
Acara Reuni Akbar Lintas Generasi ini Mengangkat Tema “ Menjalin Silaturrahmi, Mengokohkan Kembali Kejayaan MTI” yang akan digelar pada hari Rabu tanggal 2 April 2025 pukul 09.30 sampai dengan 12.30 WIB di Gazebo MIS Tarbiyah Islamiyah Kotopanjang Lampasi Tiga Nagari, Payakumbuh.
Reuni Akbar Lintas angkatan ini, menjadi momen yang sangat bersejarah bagi perjalanan sebuah madrasah yang dibangun oleh Syeikh Haji Mochtar Engku Lakung pada tahun 1935 di Nagari Kotopanjang Lampasi sekitar 6 km dari pusat kota Payakumbuh Sumatera Barat.
Menurut Mulyadi Moeslim selaku Sekretaris Panitia, mengatakan Acara reuni akbar ini akan dihadiri oleh alumni dari berbagai angkatan dan dari berbagai kota seperti Padang, Bukittinggi, Batusangkar, Pekanbaru, Duri, Batam, Medan, Bengkulu, Jambi, Palembang, Bangkinang, Jakarta,dan alumni yang berdomisili di Payakumbuh dan 50 Kota sekitarnya serta alumni dari nagari Kotopanjang Lampasi sendiri, katanya.
Reuni akbar dimaksudkan dan bertujuan untuk menjalin silaturrahmi, baik sesama alumni maupun dengan pihak strategis lainnya, untuk mengokohkan kembali kejayaan MTI di masa depan sebagai salah satu kawah candradimuka untuk melahirkan ulama dan intelektual yang berkemajuan.
Senada dengan itu, DR. Syar’i Sumin, MA., dan Hj. Dra. Peviyetmi, MA., keduanya dosen Universitas Andalas dan tokoh masyarakat Sumbar yang juga merupakan alumni MTI, memanggil seluruh alumni untuk “pulang ka surau”, berkumpul bersama guru dan asatiz serta kawan-kawan se almamater di MTI Kotopanjang.
"Kita alumni kembali ke surau kita. benahi dan bangun surau kita yang nyaris roboh dimakan rayap dan usia",ujarnya.Menurut kedua alumni ini, reuni akbar merupakan momentum penting dan sangat ditunggu-tunggu oleh semualumni lintas generasi guna menyatukan visi dan misi.
Reuni akbar untuk mengokohkan persatuan dan kesatuan, ber-ide dan berencana untuk bisa melahirkan pikiran menjadi karya nyata, bukan sebatas nostalgia mengingat masa bersekolah di MTI saja.
Alumni sejatinya menjadikan reuni akbar ini sebagai fondasi menorehkan harapan bersama memajukan MTI masa depan dengan ilmu dan amal, fikir dan zikir sebagai wujud terima kasih kepada MTI yang telah mengantarkan alumni-alumninya sukses seperti sekarang ini, ungkap Syar, i bin Sumin yang diamini sekretaris panitia reuni dan Feviyetmi
Sejarah perjalanan MTI Koto Panjang ini sudah melalui banyak periode. Dimulai dari zaman penjajahan Jepang sekolah ini sempat akan ditutup, karena banyaknya masyarakat yang berkumpul tiap pekan mengikuti pengajian yang menurut Jepang berpotensi menjadi gerakan anti Nippon. Namun berkat kesatuan ulama dan tokoh adat dari berbagai nagari, rencana penutupan MTI dibatalkan oleh Jepang.
Syeikh Haji Mochtar Engku Lakung selaku tokoh sentral dalam perkembangan MTI, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, karena selain menjadi tokoh dan pendidik di madrasah, beliau juga menjadi hakim di Mahkamah Syar’iyah (sekarang Pengadilan Agama) Payakumbuh.
Kesaksian Hj. Dra. Peviyetmi, MA., salah seorang cucu Syeikh Haji Mochtar Engku Lakung menyampaikan bagaimana perjuangan Buya Lakuang, begitu panggilan akrabnya, membangun silaturrahmi dengan berbagai pihak baik pengusaha, instansi pemerintah, tokoh adat dan sesama guru dan ulama, dengan maksud melakukan pencerahan alam pikir masyarakat melalui pendidikan berbasiskan surau.
Sampai saat ini telah banyak alumni yang menamatkan pendidikan formalnya di MTI dan setamat dari MTI, alumni-alumninya ada yang kuliah di IAIN/UIN Imam Bonjol Padang, IKIP/UNP Padang, Universitas Andalas Padang, Universitas Sumatera Utara, Universitas Indonesia, IAIN/UIN Syarief Hidayatullah Jakarta, LIPIA Jakarta, Universitas Islam Madinah, International Islamic Da’wa University Tripoly Libia, Universitas Sanaa. Republik Yaman, University Kebangsaan Malaysia, King Saud University Riyadh, Arab Saudi, Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Universitas Muhammadiyah dan perguruan tinggi lainnya.
Tidaklah heran alumni MTI Kotopanjang tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai profesi dan kegiatan. Ada alumni MTI yang berprofesi sebagai hakim, sebagai Kapolres, komando struktural di jajaran Kodam Bukit Barisan,
Kepala Kanwil Kemenag, Kepala Kantor Kemenag, dokter Kepala Rumah Sakit, dokter spesialis mata, ASN di Kemendikbud dan Kemenag, serta ASN di kementerian lainnya. Banyak juga yang bekerja sebagai Politisi, Pengusaha, profesional seperti Notaris, Akuntan, Pengacara, bahkan ada yang menjadi konsultan pendidikan di Den Haag Belanda,ungkap fevi.
Selain itu juga ada yang bekerja di sektor pertanian, peternakan, kerajinan tangan, bordir, kuliner dan sebagainya.
Kalau kita mau ke Bukittinggi misalnya, dan sempat berhenti di pertigaan Batu Sangkar, Payakumbuh dan Bukittingi, di sana ada café “teh talua balenggek” yang dikelola oleh alumni MTI Kotopanjang.
Dan karena backgroundnya pendidikan berbasis kitab kuning tentu saja ada alumni MTI yang meneruskan kegiatan di bidang dakwah dan pendidikan dengan mendirikan sekolah dan pondok pesantren berbasis sains dan teknologi digital yang dipersiapkan untuk generasi millenial dan zillenial, pungkasnya.(Yus)
BalasTeruskan |
0 Komentar